Termasuk IKN, 4 Kata Ini Hilang Dalam Pidato Jokowi di Sidang Tahunan

  • Bagikan
X
BULETINDEWATA.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan Pidato Kenegaraan dengan tone yang sedikit berbeda.


Untuk pertama kali dalam lima tahun terakhir, Jokowi banyak membicarakan politik dan menyampaikan curahatan hati (curhat). 


Jokowi juga tidak menyebut kata 'pandemi' yang menjadi perhatian besarnya pada Pidato Kenegaraan periode 2020-2022. 


Jokowi juga sama sekali tidak menyinggung 'Ibu Kota Nusantara', 'bantuan', dan 'BBM'. Kata lain yang hilang dalam pidato Jokowi adalah 'ketidakpastian', 'keamanan', dan 'sejahtera'.


Kata 'pandemi' sama sekali tidak disebut dalam pidato berisi sekitar 1.740 kata tersebut. Kata 'kesehatan' juga hanya muncul sekali dalam Pidato Kenegaraan tahun ini. Hal ini berbanding terbalik pada 2020-2022 di mana kata 'pandemi' dan 'kesehatan' mendominasi.


Kata 'pandemi' baru muncul di Pidato Kenegaraan Jokowi pada 2020 yakni seiring dengan menyebarnya Covid-19 pada awal Maret 2020. Kata tersebut diucapkan sembilan kali pada Pidato Kenegaraan 2020.


Kata pandemi paling banyak diucapkan pada 2021 yakni sebanyak 32 kali kemudian disebut sebanyak empat kali pada 2022.


Kata 'kesehatan' juga sudah jauh berkurang. Bila pada 2021, kata 'kesehatan' diucapkan sebanyak 20 kali maka pada tahun ini hanya sekali. 


Absennya kata 'pandemi' mencerminkan pergeseran fokus pemerintahan Jokowi. Pandemi dan sektor kesehatan yang menguras perhatian dan anggaran negara pada tiga tahun terakhir kini sudah mulai ditinggalkan.


Jokowi juga tidak menyebut 'Ibu Kota Nusantara' meskipun memindahkan ibu kota menjadi salah satu ambisi terbesar Presiden RI ketujuh tersebut. 


Kata tersebut muncul pertama kali pada Pidato Kenegaraan 2019 kemudian disebut kembali pada tahun lalu.


Absennya kata 'Ibu Kota Negara' terbilang mengejutkan mengingat banyak pihak yang menunggu Jokowi menunggu pernyataan sang presiden mengenai kelanjutan mega proyek tersebut.


Kata 'bantuan' dan 'BBM' juga tidak muncul dalam Pidato Kenegaraan tahun ini. Padahal, kedua kata tersebut kerap muncul dalam pidato tahun sebelumnya. 


Kata tersebut biasanya menempel pada upaya pemerintah dalam menekan dampak pandemi serta ketidakpastian global.


Absennya dua kata tersebut juga menandai jika fokus pemerintah kini bukan lagi pada penanganan pandemi ataupun upaya memitigasi dampaknya. [Buletindewata/CNBC]

Baca Juga

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di [email protected].
  • Bagikan