Buntung Karena Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Nasib Anak Bangsa Makin Semrawut!

  • Bagikan
X


“Hanya ke Bandung lah aku kembali kepada cintaku yang sesungguhnya,” demikian ungkapan Bung Karno, sapaan dari Presiden Republik Indonesia pertama yang memiliki nama lengkap Soekarno itu saat menyebut Bandung.


Bukan sekadar menuntut ilmu lalu menjadi pemimpin negara, Bung Karno juga meninggalkan banyak jejak di kota ini.


Bandung, kota yang memiliki banyak kenangan di hati Bung Karno. Kini, Bandung yang mendapatkan julukan kota Kembang itu, jadi pusat perhatian dan buah bibir masyarakat karena menjadi tujuan dari proyek besar Presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu Kereta Cepat Jakarta- Bandung (KCJB).


Kereta cepat belakangan digadang-gadang sebagai solusi mengatasi buruknya udara yang tercemar polusi di Indonesia khususnya Jakarta.


Presiden Jokowi dengan tegas menjelaskan hal tersebut ketika disinggung soal bagaimana mengatasi masalah buruknya kualitas udara di Jakarta yang sangat berdampak dengan kesehatan masyarakat.


Bayar Utang Kereta Cepat hingga 80 Tahun Lamanya


Namun, solusi yang dia sebut salah satunya menggunakan transportasi massal yaitu kereta cepat ternyata bukan sepenuhnya jalan keluar dari mengatasi masalah pencemaran udara. Dengan adanya kereta cepat, Indonesia harus menanggung beban utang yang cukup panjang waktunya.


Bahkan, seperti memberikan warisan utang untuk anak, cucu, kelak hingga 80 tahun lamanya. Bayangkan saja, bunga yang diterapkan untuk proyek kereta cepat ini hingga 3,4 persen. Padahal, harapan pemerintah Indonesia ke China dengan bunga 2 persen.


Dalam perjalanannya, biaya KCJB membengkak menjadi US$8 miliar, atau setara Rp120 triliun.


Dana yang begitu besar seakan tidak banyak berguna untuk membangun kereta cepat dengan lintasan hanya sepanjang 142,3 kilometer dari Halim ke Gedebage.


Padahal masyarakat biasanya dengan santai dari Jakarta ke Bandung melalui jalur darat menggunakan mobil pribadi, travel bus dan Kereta Api (KA). Semua moda transportasi tersebut bisa dengan mudah dijangkau masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.


Pedih, seperti pepatah untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak.


Kereta Cepat jadi Jebakan Utang


Bagaimana tidak, Peneliti Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Bhima Yudhistira Adhinegara dengan tegas menjelaskan proyek kereta cepat dianggap memiliki kesalahan sejak awal menerima proposal dari China.


“Ini semua karena kesalahan awal pada saat menerima proposal China dalam kereta cepat ternyata konsekuensinya biaya bengkak tidak bisa business to business harus dibantu APBN. Ini disebut sebagai debt trap atau jebakan utang,” kata Bhima, Jakarta, Minggu (13/08/2023).


Dia mengakui, KCJB bukan satu-satunya transportasi yang menghubungkan kota Jakarta dan Bandung.


Kereta Cepat


“Pilihan transportasi ke Bandung dari Jakarta sangat beragam dan kereta cepat juga tidak terkoneksi dengan baik. Stasiun akhir tidak sampai di Stasiun Bandung Kota. Akibatnya penumpang harus mengeluarkan biaya transportasi ekstra. Yang dulu membuat uji kelayakan harus dituntut ke ranah hukum, karena meloloskan project yang bermasalah,” paparnya.


Dia menyarankan, sebaiknya pemerintah fokus membangun transportasi logistik. Alasannya, kereta cepat saat ini belum terlalu dibutuhkan.


“Harusnya fokus bangun infrastruktur logistik, masih tinggi biaya logistik dan indeks logistik Indonesia turun 17 peringkat. Jadi jangan malah membangun Kereta Cepat Jakarta- Bandung, apa pengaruhnya ke daya saing?” katanya.


Kereta Cepat, Kado Kemerdekaan Meleset


Alih-alih jadi kado HUT RI ke-78, awalnya kereta cepat buatan China ini dijadwalkan beroperasi pada 18 Agustus 2023, namun ternyata meleset.


Kado manis itu tidak secepat lajunya jalannya kereta, seolah-olah semakin munjur. Sebelumnya, justru kereta cepat akan beroperasi pada Juni 2023 dan akhir 2022.


Dengan alasan KCJB harus memenuhi beberapa persyarakat yang berlaku dan juga menyelesaikan proses sertifikas─▒, uji coba pra-operasi KCJB akan berlangsung pada awal September 2023.


Harga tiket KCJB pun resmi diusulkan menjadi Rp250 ribu. Hal ini diharapkan menarik minat masyakat agar beralih dari jalan tol ke kereta cepat guna mengurangi kemacetan.


Padahal, masyarakat yang biasa menggunakan jalur darat dengan menggunakan mobil pribadi kapasitas dua atau empat orang untuk Jakarta ke Bandung cukup mengeluarkan dana sebesar Rp300 ribu.


Sedangkan dengan menggunakan kereta cepat, jika tarifnya Rp250 ribu, untuk sekali jalan dengan empat orang menghabiskan Rp1 juta. [Buletindewata/Inilah]

Baca Juga

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di [email protected].
  • Bagikan