Fahri Calon Bintara Gagal Pendidikan karena Buta Warna Parsial Akhirnya Buka Suara

  • Bagikan

Buletindewata.com - Fahrifadillah Nur Rizky (21) buka suara terkait dicoretnya namanya jelang pendidikan Bintara Polri setelah dinyatakan lolos seleksi tahap I. 

Fahri menepis jawaban Polda Metro Jaya yang menyebutnya gagal karena buta warna parsial.

"Kalau pada saat saya tes 2021 itu saya dinyatakan tidak buta warna. Kan ada beberapa poin, ada tes Bidkes 1, nah di Bikes 1 itu saya lolos. Saya dinyatakan tidak buta warna," kata Fahri saat dihubungi, Selasa (31/5/2022) malam.

Terkait pernyataan polisi yang menyebutnya lolos tes buta warna karena menghapal buku tes, menurutnya, Polri punya buku tes buta warna tersendiri.

"Kalau menghapal itu--yang saya ketahui ya--waktu saya tes buta warna dari Polri itu dia kaya bikin sendiri bukunya. Jadi tidak dijual bebas, buku (tes buta warna) Polri. Jadi kalau (dibilang) menghapal itu engak bisa dan juga kalau misalkan tes umum, saya enggak mungkin hapal sampai beberapa halaman seperti itu," tuturnya.

Fahri lalu bicara soal dua kali tes sebelumnya yang gagal. Versi Polda Metro Jaya, Fahri gagal tes di 2019 dan 2020 karena buta warna parsial. Akan tetapi, Fahri sendiri saat itu tidak tahu kegagalannya di mana.

"Kalau dua kali gagal itu, karena waktu itu saya tes enggak dikasih tahu gagal di mana. Jadi kita tes nih, dari awal sampai akhir udah jalan aja lancar. Sampai nanti tiba-tiba di layar tulisannya "tidak memenuhi syarat". Tahunya itu dari layar proyektor yang ditampilkan bahwasanya tidak memenuhi syarat," jelasnya.

Fahri mengatakan sebelumnya dia pernah mengikuti sekolah kedinasan. 

Sama halnya dengan seleksi Bintara Polri, di sekolah kedinasan pun dites buta warna dan hasilnya dirinya dinyatakan tidak buta warna.

"Sebelumnya dari 2020 saya pernah mengikuti sekolah seleksi sekolah kedinasan. Nah di sekolah kedinasan saya lulus sampai pantohir dan di sekolah kedinasan itu juga ada tes buta warnanya juga," tuturnya.

Polda Metro Nyatakan Fahri Buta Warna Parsial

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan membenarkan Fahrifadillah Nur Rizky telah dinyatakan lulus pada gelombang 1. 

Namun, saat dilakukan supervisi, Fahri ditemukan mengalami masalah kesehatan mata yakni buta warna parsial.

"Berdasarkan surat dari Mabes Polri sebelum para peserta mengikuti pendidikan, ada kegiatan supervisi yang dilakukan terhadap para peserta yang sudah lulus. Kemudian supervisi yang dipimpin ketua tim menyebutkan yang bersangkutan tidak memenuhi syarat dengan temuan buta warna parsial," kata Zulpan dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (30/5/2022).

Zulpan mengatakan Fahrifadillah Nur Rizky sudah tiga kali mengikuti seleksi anggota Bintara Polri sejak 2019. 

Dari ketiga seleksi itu, Fahri dinyatakan tidak lulus karena masalah buta warna parsial.

Menurut Zulpan, pihaknya telah bersikap transparan dalam kasus Fahri. Pada Januari 2022, pihaknya dan keluarga Fahri melakukan pendalaman terkait hasil supervisi yang telah dilakukan.

Fahri kembali dilakukan tes kesehatan di RS Polri. Hasilnya, pemuda itu dinyatakan tidak lulus dengan kondisi adanya buta warna parsial.

"Kita melaksanakan pendalaman hasil temuan supervisi tersebut yang dilakukan di RS Polri. Hasilnya yang dipimpin Dokter Susan selaku spesialis mata, hasilnya adalah buta warna parsial. Ini yang membuat yang bersangkutan tidak bisa mengikuti pendidikan karena ini syarat mutlak untuk anggota Polri adalah harus tidak buta warna," jelas Zulpan.

Polda Metro menduga Fahri lolos seleksi tahap awal karena menghapal buku tes buta warna. 

Sebab, saat dua kali ikut seleksi sebelumya Fahri juga dinyatakan tidak memenuhi syarat karena buta warna parsial.

"Kemungkinan terbesar yang bersangkutan belajar tentang buta warna, dia menghafal," kata Kabid Dokkes Polda Metro Jaya Kombes Didiet Setioboedi dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (30/5/2022).

Menurut Didiet, pengalaman tes itu dijadikan pelajaran oleh Fahri. 

Pemuda itu diduga telah mempelajari buku tes buta warna sehingga bisa lulus seleksi tahap I.

"Buku ini memang dijual bebas di tempat alat kesehatan, kayak Kimia Farma, sehingga dia bisa belajar letak-letaknya. Dan setelah melakukan pemeriksaan mendalam sekali baru ketahuan. Kemungkinan dia belajar dan menghafal di buku ini karena dari tahun ke tahun pakai buku ini," beber Didiet.

Sumber: news.detik.com

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di buletindewatadotcom@gmail.com.
  • Bagikan